Sekolah Dasar

Sekolah dasar (disingkat SD) adalah jenjang paling dasar pada pendidikan formal di Indonesia. Sekolah dasar ditempuh dalam waktu 6 tahun, mulai dari kelas 1 sampai kelas 6

Sekolah Menengah Pertama

Sekolah Menengah Pertama yang disingkat dengan SMP merupakan jenjang pendidikan dasar pada pendidikan formal di Indonesia setelah lulus sekolah dasar (atau sederajat)

Sekolah menengah Atas

Sekolah menengah atas (SMA) merupakan lanjutan dari jenjang pendidikan dasar

Perguruan Tinggi

Pendidikan tinggi merupakan lanjutan dari jenjang pendidikan menengah. yang biasa di sebut dengan Mahasiswa.

Guru

Guru adalah pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah

Hubungan guru dengan murid

Hubungan guru-siswa yang baik memungkinkan guru untuk lebih mudah memanajemen kelas, mengurangi tingkat stres siswa, menjadikan siswa merasa dihargai dan diapresiasi serta dapat membantu menjaga atau meningkatkan rasa percaya diri mereka.

Jumat, 12 Desember 2014

BOOK REVIEW

Judul : Paradigma Pendidikan Islam: Membangun Masyarakat
madani Indonesia
Pengarang : Hujair AH. Sanaky MS
Penerbit : Safiria Insani Press, Yogyakarta,
Oktober 2003
Tebal : v-xvi,1-337
BAGAIMANA STRATEGI PENDIDIKAN ISLAM?
(REVIEW KARYA HUJAIR AH. SANAKY)

Diantara cita-cita bangsa Indonesia di era reformasi adalah ingin
membangun suatu masyarakat madani ala Indonesia yang disepadankan
dengan civil society, upaya untuk mewujudkan cita-cita tersebut
pendidikan Islam diasumsikan mempunyai peran strategi dengan
membangun sistem pendidikan yang mampu mengembang sumber
daya manusia berkualitas yang dilandasi dengan nilai-nilai illahiyah,
insyaniyah, masyarakat, lingkungan dan berbudaya. Berbagai strategi
yang harus ditempuh didalam pendidikan Islam, melalui Karya Hujair
AH. Sanaky ini akan ditemukan pokok-pokok pikiran pembaharuan
pendidikan Islam yang dapat mengantarkan dalam membangun
masyarakat madani Indonesia tersebut.
Adapun buku yang ditulis Hujair AH. Sanaky berjudul "Paradigma
Pendidikan Islam: membangun masyarakat madani Indonesia".
Buku ini semula adalah bagian tesis magisternya berjudul pembaharuan
Pendidikan Islam Menuju Masyarakat Madani Indonesia (Tinjauan
Sosiokultural Historis) yang ditempuh di Universitas Islam Indonesia
Yogyakarta sedang bagian lainnya ditulis dalam bukunya yang berjudul
"Sejarah Sosial Pendidikan Islam: Pergulatan Dalam Hegemoni
Pemikiran". Kedua buku tersebut diterbitkan oleh penerbit Safiria
Insania Press.
Penulisan karya ini terdorong adanya rasa keprihatinan terhadap
kesiapan pendidikan Islam dalam menghadapi perubahan yang terjadi
di era reformasi menuju masyarakat madani Indonesia, dengan
memberikan berbagai gagasan baru, yang secara keseluruhan akan
diuraikan dalam buku ini dan terbagi dalam tiga bab.
Bab pertama mengungkapkan berbagai persoalan dan tantangan
yang dihadapi oleh pendidikan di Indonesia termasuk pendidikan
Islam untuk menuju masyarakat madani Indonesia, diantaranya
persoalan dikotomi pendidikan, kurikulum, sumber daya serta
manajemen pendidikan islam, untuk itu pendidikan hendaknya
didasarkan pada paradigma-paradigma baru yang bertujuan untuk
membentuk suatu masyarakat madani yang demokratis, pendidikan
hendaknya bertolak dari pengembangan manusia yang berbudaya,
berperadaban, merdeka, bertaqwa, bermoral dan berakhlak, berpengetahuan
dan berketrampilan, inovatif dan kompetitif. Menurut
Hujair untuk menghadapi hal-hal tersebut diperlukan adanya pembaharuan
pemikiran pendidikan islam secara mendasar melalui lima
hal yaitu, pertama perlu pemikiran kembali konsep pendidikan islam
yang betul-betul didasarkan pada asumsi dasartentang manusia yaitu
fitrah. Kedua pendidikan islam harus menuju pada integritas antara
ilmu agama dan ilmu umum agar tidak melahirkan jurang pemisah
antara keduanya karena baik ilmu agama maupun ilmu umum berasal
dari Allah SWT. Ketiga pendidikan di desain menuju tercapainya sikap
dan perilaku toleransi. Keempat pendidikan Islam mampu menumbuhkan
etos kerja. Kelima pendidikan Islam perlu di desain untuk
mampu menjawab tantangan masyarakat menuju masyarakat
madani. (h. 3-10).
Bab kedua mengkaji konsep masyarakat madani. Pada bagian
ini Hujair melacak sejarah perkembangan masyarakat madani atau
civil society baik dari sisi etimologi, maupun dari sisi asal-usul konsep
masyarakat madani dengan mengemukakan pandangan pada ahli
barat, para pemikir muslim dan para pakar di Indonesia. Namun
demikian istilah masyarakat madani masih tetap diperdebatkan di
kalangan para ahli. Di Indonesia istilah masyarakat madani pada
umumnya disepadankan dengan masyarakat sipil (civil society).
Proses untuk mewujudkan masyarakat sipil paling tidak ada beberapa
persyaratan yang harus terpenuhi menurut Hujair adalah adanya
pemahaman yang sama (one standard), adanya keyakinan
(confidence) dan saling percaya (social trust), tentang apa dan
bagaimana karakteristik masyarakat madani, satu hati dan saling
tergantung, kesamaan pandangan tentang tujuan dan misi. Tentang
tujuan dan misi (h. 66-68).
Bab ketiga merupakan gagasan atau pemikiran pokok Hujair
tentang pembaharuan paradigma pendidikan Islam karena adanya
paradigma lama berupa dualisme pendidikan Islam (h. 96).
Pendidikan lebih cenderung pada sentralistik, kebijakan lebih
bersifat top down, orientasi pengembangan pendidikan lebih bersifat
parsial, peran pemerintah sangat dominan dalam kebijakan pendidikan.
Sedangkan paradigma baru orientasi pendidikan islam adanya
integrasi pendidikan, lebih cenderung pada desentralistik, kebijakan
pendidikan berisafat bottom up, orientasi pengembangan pendidikan
lebih bersifat holistic (115-116) sehingga kerangka acuan pemikiran
dalam penataan dan pengembangan sistem pendidikan menuju
masyarakat madani Indonesia harus mampu mengakomodasi berbagai
pandangan secara selektif sehingga terdapat keterpaduan dalam
226 BOOR Review
konsep yaitu: pendidikan harus membangun prinsip kesetaraan antara
sektor pendidikan dengan sektor-sektor lain, memelihara sumber
yang berpengaruh seperti keluarga, sekolah, pemberdayaan institusi
sosial, kemandirian, pendidikan yang cepat tanggap akan perubahan,
rekonstruksi, berorientasi pada peserta didik, pendidikan kultural,
prinsip global. (199)
Strategi perubahan dalam uraian berikutnya merupakan inti
dari pemikiran atau gagasan Hujair A.H Sanaky yaitu strategi pendidikan
islam dalam proses perubahan menuju masyarakat madani
Indonesia yaitu perlu dilakukanpe/tama reorientasi kerangka dasar
filosofis dan teoritis pendidikan yang mantap agar mempunyai arah
yang pasti tidak terombang ambing dan tidak akan meniru-niru sistem,
teori pendidikan lain, langkah awal yang harus dilakukan adalah
merumuskan kerangka dasar filosofis pendidikan yang sesuai dengan
ajaran Islam kemudian mengembangkan secara empiris prinsipprinsip
yang mendasari pelaksanaannya dalam konteks lingkungan
(sosial-kultural), (127-135) merumuskan misi dan visi pendidikan
harus didasarkan pada nilai-nilai ajaran Islam serta nilai-nitai budaya
atau didasarkan pada core belief dan core values, maka lembagalembaga
pendidikan Islam dituntut untuk menyusun misi dan visi
baik tingkat makro atau tingkat mikro serta kebijakan strategi pelaksanaannya.
Ketiga merumuskan strategi dasar pendidikan Islam yaitu
untuk pemerataan kesempatan untuk memperoleh pendidikan,
relevansi pendidikan, peningkatan kualitas pendidikan serta efisiensi
pendidikan. Keempat reorientasi tujuan pendidikan, karena tujuan
pendidikan yang ada sekarang dirasakan tidak benar-benar diarahkan
kepada tujuan positif, tetapi tujuan pendidikan Islam hanya diorientasikan
pada kehidupan akhirat dan bersifat defensif. Upaya reorientasi
tujuan pendidikan Islam agar tujuan pendidikan diharapkan lebih
bersifat problematis, strategis, antisipatif menyentuh aspek aplikasi,
menyentuh kebutuhan masyarakat dan pengguna lulusan artinya
pendidikan Islam harus membangun manusia dan masyarakat secara
utuh dan menyeluruh (insan kamil) dalam semua aspek kehidupan
(h. 153-157) Kefima reorientasi kurikulum pendidikan Islam, hendaknya
materi pendidikan dapat terakomodasi dalam kurikulum yang
menggambarkan standar kemampuan dasar yang dimiliki peserta
didikpada masing-masing jenjang pendidikan, desain kurikulum harus
tidak hanya mendasarkan pada potret masa kini saja tetapi harus
berorientasi masa depan (future oriental} mendesain kurikulum
dengan menawarkan berbagai program pendidikan, latihan dan
ketrampilan yang memiliki fleksibilitastinggi, diversifikasi keahlian,
adap table dengan kebutuhan peserta didik dengan tuntutan masyarakat
karena selama ini kurikulum bersifat sentralistik. Berkaitan
dengan kurikulum berbasis kompetensi maka desain program
kurikulum diharapkan dapat diorientasikan pada learning competency
yang mampu menghantarkan peserta didik untuk dapat memiliki,
lima kompetensi dasar, yaitu kompetensi Islamiyah, knowledge, skills,
Kependidikan Islam, Vol.1. No.2, Agustus 2003-Januari 2004 227
ability dan kompetensi sosio kultural. (174-188). Keenam reorientsi
metodologi pendidikan Islam, terlihat metodologi pendidikan Islam
saat ini masih sebatas pada sosialisasi kilas dengan pendekatan
hafalan, atas dasar ini proses belajar harus didasarkan pada prinsip
belajar siswa aktif (student active learning), mengembangkan kemampuan
belajar (learning ability) dengan mendasarkan pada
learning competency sehingga diharapkan dapat membangun tiga
pilar ketrampilan yaitu learning skills, thinking skills dan living skills
(h. 191-199). Ketujuh reorientasi manajemen dan sumber daya
pendidikan Islam Manajemen Pendidikan Islam selama ini pengaturannya
dengan sistem sentralisasi hampir seluruhnya ditetapkan oleh
pemerintah pusat secara sentralistik dan ketat sehingga pengelola
pendidikan kurang kreatif manajemen pendidikan menjadi kaku serta
kurang berkembang.
Solusi dari masalah manajemen pendidikan menurut Hujair AH
Sanaky dengan menawarkan perubahan manajemen pendidikan ke
arah, pertama desentralisasi pengelolaan pendidikan islam adanya
perubahan paradigma dari orientasi manajemen pemerintahan yang
sarwa negara (state driven} menjadi berorientasi ke pasar, perubahan
paradigma dari orientasi manajemen pemerintahan yang otoritarian
menjadi berorientasi pada demokrasi, perubahan paradigma dari
sentralisasi menjadi desentralisasi kewenangan, manajemen pemerintahan
yang cenderung dipengaruhi oleh tata aturan global menjadi
kebijakan dan aturan pemerintah harus mengakomodasi tata aturan
global. Kedua, manajemen berbasis sekolah, apakah pendidikan Islam
dapat menerapkan manajemen berbasis sekolah? Menurut Hujair AH
Sanaky karena pendidikan Islam sebagai sub sistem pendidikan
nasional maka harus menerapkan sistem ini meski ada beberapa
faktoryang perlu diperhatikan dalam penerapannya yaitu kewajiban
sekolah, kebijakan dan priotitas pemerintah, partisipasi masyarakat
dan orang tua, peranan profesionalisme dan manajerial serta
pengembangan profesi. Ketiga manajemen pendidikan tinggi adalah
menekankan kemandirian lebih besar dalam pengelolaan atau
otonomi, untuk dapat menyelenggarakan pengelolaan manajemen
perguruan tinggi Islam yang baik perlu memperhatikan kualitas,
otonomi, akuntabilitas (pertanggungjawaban), evaluasi dan akreditasi
(h. 207-225). Problematika juga ada pada sumber daya pendidikan
Islam, dengan rendahnya kualitas tenaga kependidikan padahal
dituntut memiliki sumber daya pendidikan yang berkualitas dan
profesional maka yang harus dilakukan oleh pendidikan Islam adalah
adanya program peningkatan kemampuar, sumber daya pendidikan
berupa training for trainers (h. 226-227).
Aktualisasi pendidikan Islam dalam masyarakat madani di
Indonesia, pada bagian ini Hujair AH Sanaky pembahasannya lebih
difokuskan pada empat hal, pertama upaya pendidikan Islam bagi
pemberdayaan manusia (proses humanisasi) dan masyarakat unggul.
Kedua upaya demokratisasi pendidikan Islam. Ketiga model-model
228 Boole Review
pendidikan Islam alternatif. Keempat peran pendidikan Islam dalam
masyarakat madani Indonesia (228-229). Pendidikan merupakan
proses humanisasi, merupakan proses yang terbuka dimana manusia
diberdayakan dan dioptimalkan potensi (fitrah) bawaannya maka
dibutuhkan konsep pendidikan yang dapat memberi gambaran yang
komprehensif dengan menekankan keharmonisan hubungan baik
sesama manusia, masyarakat maupun lingkugan yang didasarkan
pada nilai-nilai normatif illahiyah. Sedangkan manusia dan masyarakat
yang unggul dalam masyarakat madani adalah manusia dalam
menjalankan hidupnya merupakan pengabdian kepada Allah semata,
cara terbaik untuk mendapatkan prestasi dalam hidup adalah dengan
mempunyai ilmu dan memiliki etos kerja yang tinggi, serta berorientasi
ke masa depan (h.230-236)
Demokratisi pendidikan di dalam masyarakat madani adalah
bagaimana proses pendidikan Islam dapat menyiapkan peserta didik
agar terbiasa bebas berbicara dan mengeluarkan pendapat secara
bertanggung jawab dan turut bertanggung jawab, terbiasa mendengar
dengan baik dan menghargai pendapat dan pandangan orang lain,
menumbuhkan keberanian moral yang tinggi, dan mempelajari
kehidupan masyarakat (237-250)
Adapun model-model pendidikan Islam alternatif. Ada tiga
pendekatan yang ditawarkan sebagai pola alternatif pendidikan Islam
yaitu pendekatan sistematik (perubahan total), pendekatan suplementer
yaitu dengan menambah sejumlah paket pendidikan yang
bertujuan memperluas pemahaman, pendekatan komplementer yaitu
dengan upaya mengubah kurikulum dengan sedikit radikal untuk
disesuaikan secara terpadu sedangkan konsep pendidikannya adalah
pendidikan integralistik, humanistic, dan gerakan pada bendaya.
Kemudian bari ditarik model pendidikan sila yang lebih operasional
yaitu mendesain model pendidikan umum Islami, mendesain model
pendidikan Islam yang tetap mengkhususkan pada desain pendidikan
keagamaan, seperti yang ada sekarang, model pendidikan Islam yang
tidak dilaksanakan di sekolah-sekolah formal tetapi dilaksanakan di
luar sekolah, artinya pendidikan agama dilaksanakan di rumah atau
lingkungan keluarga, masjid, masyarakat (tempat kursus-kursus,
pengajian-pengajian an kajian-kajian keagamaan serta mendesain
model pendidikan diarahkan pada dua dimensi yaitu dimensi dialektika
(horisontal) dan dimensi ketundukan vertikal (254-267).
Bagaimana kontribusi dan peran pendidikan Islam dalam
masyarakat madani dijelaskan oleh Hujair AH Sanaky dimaksudkan
agar pendidikan Islam mempersiapkan dan mampu menghasilkan
out put pendidikan yang unggul, maka lembaga-lembaga pendidikan
Islam harus mampu melakukan pembenahan dan pembaharuan
dengan cara: pertama program lembaga-lembaga pendidikan Islam
lebih diorentasikan kepada penguasaan ilmu pengetahuan dan
teknologi serta pengembangan keterampilan dengan meningkatkan
kemampuan untuk menggunakan berbagai teknologi elektronik,
KepenJidiUan Islam, Vol.1. No.2, Agustua 2003-Januari 2004 229
kedua lembaga-lembaga pendidikan Islam harus mampu mengembangkan
atau melakukan detersivikasi program-program bidang studi
yang sesuai dengan kebutuhan tenaga dibidang-bidang tertentu atau
sesuai dengan kebutuhan masyarakatdari pengguna jasa pendidikan,
ketiga pengembangan kurikulum dan silabi relevan dengan kompetensi
yang ingin dicapai mencakup spiritualillahiyah, knowledge, skill,
ability dan kultural-sosial yang diarahkan pada kebutuhan pasar,
/cee/npatdiperlukan sumber daya manusia yang berkualitas, manajemen
dan organisasi yang efektif, sumber dana yang memadai dan
efisien dengan memanfaatkan sarana yang tersedia. Sehingga
eksistensi pendidikan Islam diharapkan mampu berkomunikasi dan
berkompetisi dengan berbagai lembaga pendidikan lainnya dalam
membangun manusia yang utuh (insan kamil) menuju masyarakat
madani.
Bab keempat merupakan penutup berisi kesimpulan dan kata
penutup, pada bagian ini Hujair AH Sanaky menjelaskan bahwa untuk
membangun suatu masyarakat diperlukan berbagai terobosan dalam
penyusunan konsep, tindakan-tindakan dan paradigma-paradigma
baru dalam menghadapi berbagai tantangan. Pendidikan Islam perlu
melakukan perubahan pada aspek filosofis, visi, misi, tujuan,
kurikulum, metodologi dan manajemen pendidikan Islam untuk
menuju masyarakat madani Indonesia.
Buku ini memiliki kontribusi dibidang pemikiran pendidikan Islam
terutama pembaharuan paradigma pendidikan Islam dalam wacana
masyarakat madani Indonesia atau civil society, sehingga buku ini
menarik untuk dibaca, karena dalam buku ini mencakup penjelasan
tentang akarsejarah masyarakat madani Indonesia serta membawa
para pembaca untuk menelusuri peran strategis pendidikan Islam
dalam mensosialisasikan dan mewujudkan cita-cita masyarakat
madani Indonesia dengan berbagai reorientasi seluruh aspek
pendidikan Islam.
Meskipun buku ini hanya terdiri dari empat bab namun tidak
mengurangi nilai penting karya ini dan kontribusi signifikan pemikiran
Hujair dalam pembaharuan paradigma pendidikan Islam yang
hendaknya ditindaklanjuti oleh para pemerhati pendidikan dalam
bentuk praktik pendidikan Islam. Sebagaimana karya-karya lain,
karya ini terbuka terhadap kritik dan saran para ahli dibidang
pemikiran pendidikan Islam.
23O BOOR Review

RESENSI BUKU

Nama Pengarang         : Prof. Dr. H. Samsul Nizar, M.Ag
Judul Buku                  : Sejarah pendidikan Islam
Bab yang dibahas        : XXI BAB
Tahun Terbit                : 2007
Tempat Terbit              : Jakarta
Tebal Buku                  : XXX + 360 Halaman; 23 Halaman
Penerbit                       : KENCANA PERDANA MEDIA GROUP
Buku yang dieditori oleh Prof. Dr. H. Samsul Nizar, M.Ag merupakan kumpulan tulisan tentang sejarah pendidikan Islam dari beberapa penulis dengan menyelusuri jejak sejarah pendidikan era Rosulullahbsampai Indonesia. Dalam kata pengantar editor Prof. Dr. H. Nizar menerangkan quo vadis pendidikan Islam di Indnesia, menyelusuri sejarah menuju paradigma pendidikan berkualitas. Dalam pembahasan ini, diterangkan kondisi pendidikan nasional yang serba dengan kekurangan dan eror direfleksikan kepada sejarah pendidikan Islam untuk memperbaiki sistem pendidikan nasional ke arah yang lebih maju.
Pada BAB I ditulis tentang Profil Rosulullah sebagai Pendidik ideal: telaah pola pendidikan Islam era Rosulullah fase Makkah dan Madinah yang ditulis  oleh Zainal Efendi Hasibuan menerangkan tentang kondisi politik, sosiokultural pra Islam sampai fase awal Islam dan bagaimana pendidikan pada zaman Rosulullah mulai dari lembaga pendidikannya, materi dan kurikulum serta metode pengajaran dan evaluasi era Rosulullah. Rosulullah sebagai pendidik yang ideal dapat dilihat dari indikator walaupun dengan sarana dan prasarana yang terbatas dapat menelurkan para intelektual yang berkualitas. Yang dahulunya bangsa arab masih terkukung dalam kegelapan dan kejahiliahan melesat ke arah peradaban yang tinggi. Dan metode yang diterapka rosulullah sangat berfariasi sehingga dapat menghilangkan kejenuhan. Dan yang paling utama Rosulullah mendidik para sahabat dengan menjadikan dirinya sebagai suri tauladan. Adapun kurikulum yang dipakai Rosulullah adalah kurikulum berbasis masyarakat. Hal tersebut dapat dilihat dari pembagian pengajaran era makkah dan era madinah.
Pada BAB II ditulis tentang pola pendidikan Islam pada periode Rosulullah mekkah dan madinah ditulis oleh Kamaruzzaman. Disana diterangkan tentang  kondisi sosial kultural makah dan madinah pada era Rosulullah dan pola yang dilakukan Rosulullah dalam mengajarkan tauhid kepada para sahabatnya. Kurikulum yang digunakan yaitu berlandaskan Al-Qur’an dan Al-Hadist.
BAB III tentang pola pendidikan Islam  pada masa Khulafaurrosyidin ditulis oleh Mhd. Dalpen. Disini diterangkan tentang keadaan dan sistem pendidikan di zaman Khulafaurrosyidin. Pada zaman Abu bakar, sistem pendidikannya tidah jauh berbeda dari pendidikan pada masa Rosulullah. Pada masa Umar pendidikan sudah lebih meningkat dimana para guru sudah diangkat dan digaji yang diambil dari baitul mall  untuk mengajar ke daerah-daerah yang baru ditaklukan. Pada masa Usman. Pendidikan diserahkan pada rakyat dan sahabat yang tidak hanya fokus di mMadinah melainkan dikirim ke daerah-daerah lainnya. Pada masa Ali, pendidikan kurang mendapat perhatian dikarenakan terjadi pergolakan dan konflik yang menimbulkan kekacauan.
BAB IV pola pendidikan Islam pada periode dinasti Umayyah yang ditulis oleh Silvianti Candra. Dieterangkan tentang pembentukan dinasti, kemajuan yang dicapai oleh dinasti umayyah dan pola pendidikan dan pusat pendidikannya. Pada masa ini berkembang ilmu-ilmu agama islam dan adanya pembukuan hadist pada zaman Umar Bin Abdul Aziz.
BAB V pola pendidikan Islam pada periode dinasti abasiyah yang ditulis oleh Ali Nupiah. Disini dibahas tentang sejarah berdirinya daulah Abasiyah, sistem politik, pemerintahan dan bentuk negara serta sistem sosialnya. Pada zaman ini Islam mencapai punak kejayaan yang dapat dilihat indikatornya yaitu majunya ilmu-ilmu sains dan tekhnologi. Dan puncak kejayaan tersebut terjadi pada masa Harun Arrosyid.
BAB VI Pola pendidikan Islam di Spanyol era awal tinjauan historis filosofis ditulis oleh Samsul Nizar. Dalam tulisan ini dibahas tentang sejarah awal Islam Spanyol, perkemabngan Pendidikan dan kebudayaan Spanyol Islam beserta faktor penunjangnya, dan bias pendidikan spanyol Islam bagi perkembangan dunia modern. Disini Spanyol diterangkan baha spanyol merupakan pintu atau temapat penghubung antara dunia Islam dan Eropa. Dari sinilah proses pencerahan Eropa terbentuk.
Dan pada bab-bab yang selanjutnya diterangkan sejarah pendidikan islam dari pendidikan Islam di andalusia oleh Yusmanto, lembaga-lembaga pendidikan Islam era awal oleh Mira Astuti, kurikulum dan pola perkembangan ilmu pengetahuan pada masa klasik hingga masa keemasan oleh Sondal Pramujaya, transformasi dan kontribusi intelektual Isla atas dunia barat oleh Farida Syam, madrasah Hizamiyah; pengaruhnya terhadap perkembangan pendidikan islam dan aktivitas ortodoksi suni oleh Edi Warman, pendidikan Islam pada era kemunduran oleh Mulyadi Hermanto Nasution, kehancuran dinasti Abasiyah dan pengaruhnya terhadap pelaksanaan pendidikan di dunia Islam oleh Roli Yandri, sejarah dan perkembangan arsitektur Islam dinasti Usmaniyah oleh Samsul Nizar, dinamika sejarah pendidikan perempuan potert timur tengah dan indonesia era awal oleh Wahyu hikmah, dikotomi ilmu pengetahuan: akar tumbuhnya dikotomi ilmu dalam peradaban Islam oleh Yudelasharmi, Muhammad Abduh dan usaha pembaruan pendidikan Islam di Mesir oleh Yasmansyah, gagasan islamisasi ilmu pengetahuan dan implikasinya dalam pendidikan oleh Ahmad Syarifin, sejarahdan dinamika lemaga-lembaga pendidikan islam nusantara oleh Abasri, pola kebijakan pendidikan Islam di Nusantara pada masa awal samapai sebelum kemerdekaan oleh Maswardi, organisasi sosial keagamaan dan pendidikan Islam oleh Muhammad Syaifudin, dan yang terahir pola dan kebijakan pendidikan Islam pada masa awal kemerdekaan sampai pada orde lama oleh Zulhandra.
Kesimpulan
Melihat dari isi buku ini, disana diterangkan secara mendalam tentang sejarah pendidikan Islam dari era Rosulullah hingga Islam di Indonesia pada masa orde lama. Dengan bahasa penulisan yang apik dan runtut penulis mengajak pembacanya untuk berdiskusi dan akan kita dapatkan analisis atau riset yang jaranng ditemukan.
Dikarenakan buku ini merupakan kumpulan dari makalah-makalah, pembahasan yang disampaikan kurang rutut dan sistematis, sehingga agak menyulitkan para pembaca untuk mengikuti alurnya, dan didalamnya terkadang ada dua pembahasan yang setema disampaikan.
 
Sumber : http://almasakbar45.blogspot.com/2011/06/resensi-buku-sejarah-pendidikan-islam.html

Selasa, 09 Desember 2014

Tips Membangun Hubungan Guru – Siswa

Whoa! Mungkin sebagian anda akan bertanya, pentingkah ini? Yup, hubungan guru – siswa perlu dibangun dengan baik. Mengapa? Karena dengan hubungan yang terbangun dan terbina dengan baik antara guru dengan siswa-siswanya, maka proses belajar-mengajar akan menjadi lebih mudah dilakukan. Hubungan guru-siswa yang baik memungkinkan guru untuk lebih mudah memanajemen kelas, mengurangi tingkat stres siswa, menjadikan siswa merasa dihargai dan diapresiasi serta dapat membantu menjaga atau meningkatkan rasa percaya diri mereka. Berikut ini ada beberapa tips yang dapat seorang guru terapkan untuk dapat membentuk hubungan yang positif dengan siswa-siswanya. Mari kita simak.




Jadilah guru yang disenangi

Pernah mendengar ada guru yang tidak disukai oleh siswa-siswanya? Pastinya kan? Nah, mengapa hal itu sampai terjadi? Ada banyak faktor dan sebab mungkin. Tapi ini tentu sangat tidak baik bagi guru itu sendiri dan terlebih-lebih pada efeknya terhadap proses belajar-mengajar yang akan menjadi tugas dan tanggung jawabnya berkaitan dengan siswa-siswa tersebut. Guru yang dibenci siswa tidak akan diterima dengan baik. sebaliknya, guru yang disukai, akan mendapatkan kemudahan-kemudahan saat berada di dalam kelasnya. Banyak cara untuk dapat menjadi guru yang menyenangkan dan dicintai oleh siswa. Di blog ini bahkan telah dibahas sampai 2 tulisan mengenai tips menjadi guru idola. Simak tulisannya: Tips Menjadi Guru Idola (Bagian 1) dan Tips Menjadi Guru Idola (Bagian 2). Ingat-ingatlah kembali waktu-waktu dulu saat anda sedang sekolah. Salah seorang guru tentunya adalah guru yang sangat anda sukai. Apa efeknya terhadap pembelajaran anda dengan guru tersebut? Pastinya, karakternya yang menyenangkan anda, membantu anda untuk lebih mudah belajar dengannya.

Menjadi pendengar

Setiap orang ingin didengarkan, baik berhubungan dengan keluhan maupun kebahagian. Begitu juga dengan siswa anda. Sesekali, luangkan waktu anda untuk mendengarkan mereka. Anda akan terkejut dan tak menyangka, bahwa dengan mendengarkan siswa-siswa anda hanya sekitar 5 menit sampai 10 menit saat anda mengajar, akan membuat hubungan guru-siswa akan meningkat ke arah yang positif. Dalam mendengarkan siswa, kadang-kadang kita juga akan mendapatkan masukan-masukan berharga dari mereka, baik dalam hal pembelajaran yang anda laksanakan maupun hal-hal lain yang sifatnya lebih umum.

Berbicaralah dengan siswa

Ketika ada masalah, ataupun bahkan tak ada masalah, luangkanlah waktu anda untuk duduk bersama siswa. Ini bisa dilakukan pada saat jam-jam istirahat atau saat-saat santai lainnya. Jika anda seorang wali kelas, maka ini harusnya adalah sebuah kewajiban. Berbicara dengan siswa dapat mencairkan suasana dan hari-hari mereka. Bisa jadi, saat anda berbicara dengan mereka, anda telah membantu membuat hari-hari mereka di sekolah menjadi lebih menyenangkan. Duduklah di dekat siswa-siswa di sebuah bangku saat istirahat. Tanyakan hal-hal remeh seperti, “Tadi belajar apa?”, “Jajan di warung mana tadi?”, “Lagi baca buku apa itu, kok kelihatannya menarik sekali?”, dan sebagainya. Pokoknya bicarakan hal-hal yang santai dan jadilah guru yang ramah dengan semua siswa.

Apresiasi mereka

Setiap siswa itu unik. Seringkali di sekolah atau di kelas, mereka melakukan hal-hal tertentu yang berbeda dari siswa lainnya. Beberapa guru yang tidak memahami malah akan menganggap mereka melakukan hal-hal yang kurang positif atau tidak bermanfaat sama sekali. Anda harusnya jangan demikian. Segala perilaku dan tindakan yang mereka lakukan perlu diapresiasi walaupun jika dipandang dari segi kemanfaatannya sangat kecil. Perlu dijaga agar siswa tidak kehilangan muka karena mencoba sesuatu yang berbeda dan kadang dianggap remeh oleh kawan-kawannya atau guru lain. jikapun mereka melakukan tindakan atau perilaku negatif, hargai mereka dengan menanyakan mengapa mereka melakukan itu, tanpa disaksikan siswa-siswa lainnya yang mungkin dapat membuat malu mereka dan kehilangan kepercayaan diri. Ketika mereka melakukan hal-hal yang baik, pujilah mereka dengan tulus, bahkan untuk hal-hal yang sangat sederhana. Misalnya, ketika seorang siswa membuang sampah dengan baik pada tempat yang disediakan (walaupun ini sudah seharusnya dan merupakan perilaku positif yang lumrah), ucapkanlah kata-kata seperti, “Sip, itu bagus nak. Perilaku ini kalau dimiliki semua orang, pasti bikin sekolah kita menjadi semakin rapi dan bersih. Nyaman dipandang.”

Kenali lebih jauh

setiap anak memiliki kepribadian yang berbeda. Mereka datang dari keluarga yang berbeda. Mereka punya kemampuan dan potensi yang berbeda. Kenalilah setiap siswa anda lebih jauh. Ini akan membantu anda membina hubungan dengan setiap siswa-siswa anda. Tetapkan target anda pada siswa-siswa anda dalam suatu rentang waktu tertentu (misalnya 1 bulan) untuk mengenali secara mendalam setiap anak yang ada di kelas anda. Anda dapat meminta mereka menuliskan biodata singkat dengan dilengkapi deskripsi diri secara bebas. Mengenali siswa anda akan membuat anda mendapatkan ide-ide khusus untuk setiap anak dalam membina hubungan guru-siswa dengan mereka. Tentu juga dengan mendengarkan, berbicara, dan cara-cara lainnya yang mudah dan dapat anda lakukan.

demikian beberapa tips untuk membangun hubungan antara guru dengan siswa untuk meningkatkan kualitas proses belajar mengajar anda di kelas. Anda punya tips lain? silakan berbagi di kolom komentar. Wassalam.

Sumber : http://novehasanah.blogspot.com/2014/11/tips-membangun-hubungan-guru-siswa.html

Jumat, 21 November 2014

Pendidikan Tinggi


Pendidikan tinggi merupakan lanjutan dari jenjang pendidikan menengah.
Dalam Undang-undang Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional pasal 19 dan pasal 20 diatur tentang pendidikan tinggi yaitu:
Pasal 19
  1. Pendidikan tinggi merupakan jenjang pendidikan setelah pendidikan menengah yang mencakup program pendidikan diploma, sarjana, magister, spesialis, dan doktor yang diselenggarakan oleh pendidikan tinggi.
  2. Pendidikan tinggi diselenggarakan dengan sistem terbuka.
Pasal 20
  1. Perguruan tinggi yang memenuhi persyaratan pendirian dan dinyatakan berhak menyelenggarakan program pendidikan tertentu dapat memberikan gelar akademik, profesi, atau vokasi sesuai dengan program pendidikan yang diselenggarakannya.
  2. Perseorangan, organisasi, atau penyelenggara pendidikan yang bukan perguruan tinggi dilarang memberikan gelar akademik, profesi, atau vokasi.

Sekolah Menengah Atas

Sekolah menengah atas (SMA) merupakan lanjutan dari jenjang pendidikan dasar.
Dalam Undang-undang Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional pasal 18 diatur tentang pendidikan menengah yaitu:
  1. Pendidikan menengah merupakan lanjutan pendidikan dasar.
  2. Pendidikan menengah terdiri atas pendidikan menengah umum dan pendidikan menengah kejuruan.
  3. Pendidikan menengah berbentuk sekolah menengah atas (SMA), madrasah aliyah (MA), sekolah menengah kejuruan (SMK), dan madrasah aliyah kejuruan (MAK), atau bentuk lain yang sederajat.
  4. Ketentuan mengenai pendidikan menengah sebagaimana dimaksud pada ayat (1), ayat (2), dan ayat (3) diatur lebih lanjut dengan peraturan pemerintah.